Assalamualaikum Sahabat Nisrina
Apa Saja Nasehat Untuk Wanita Yang Akan Menikah
Setiap wanita yang belum menikah tentu berharap kelak
akan merasakan bagaimana menjadi seorang istri. Untuk itu, wanita perlu
membekali dirinya dengan hal-hal yang bisa menjadi ilmu di masa depannya kelak.
Di antara bekal yang bisa membantu wanita menjalani perannya sebagai istri adalah
sebuah nasehat yang baik. Dan berikut adalah beberapa nasehat yang disampaikan
para generasi terdahulu bagi wanita yang akan menikah, seperti dikutip darifimadani:
1.
Taat kepada suami
Anas mengatakan bahwa para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mempersembahkan (menikahkan) anak perempuannya kepada calon suaminya, mereka berpesan kepada anaknya untuk berkhidmat pada suami serta senantiasa menjaga hak suami.
Anas mengatakan bahwa para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mempersembahkan (menikahkan) anak perempuannya kepada calon suaminya, mereka berpesan kepada anaknya untuk berkhidmat pada suami serta senantiasa menjaga hak suami.
2.
Pesan ayah kepada anak perempuannya saat
pernikahan
Pada saat pernikahan anaknya, Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib memberikan wasiat kepada anak perempuannya,“Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa cemburu merupakan penyebab jatuhnya thalak. Juga jauhkanlah dirimu dari sifat banyak mengeluh, karena keluh kesah merupakan sebab timbulnya kemarahan, dan hendaklah kamu memakai celak mata, perhiasan yang paling indah serta wawangian yang paling harum ketika berada di dekat suami”.
Pada saat pernikahan anaknya, Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib memberikan wasiat kepada anak perempuannya,“Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa cemburu merupakan penyebab jatuhnya thalak. Juga jauhkanlah dirimu dari sifat banyak mengeluh, karena keluh kesah merupakan sebab timbulnya kemarahan, dan hendaklah kamu memakai celak mata, perhiasan yang paling indah serta wawangian yang paling harum ketika berada di dekat suami”.
3.
Pesan ibu kepada anak perempuannya
Diriwayatkan bahwasanya Asma binti Kharijah Al-Farzari memberikan pesan pada anak perempuannya ketika menikah,“Sesungguhnya engkau telah keluar dari sarang yang engkau tempati menuju hamparan luas yang tidak engkau ketahui, juga menuju teman yang engkau belum merasa rukun dengannya. Oleh sebab itu, jadilah engkau bumi baginya, maka ia akan menjadi langit bagimu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya dia akan menjadi tiang untukmu. Jadilah hamba sahaya baginya, niscaya dia akan menjadi hamba untukmu. Dan janganlah engkau meremehkannya, karena dia akan membencimu dan janganlah engkau menjauh darinya karena dia akan melupakanmu. Bila dia dekat denganmu maka dekatkanlah dirimu, bila dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya dan matanya. Janganlah dia mencium sesuatu darimu kecuali wawangian dan janganlah dia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik.”
Diriwayatkan bahwasanya Asma binti Kharijah Al-Farzari memberikan pesan pada anak perempuannya ketika menikah,“Sesungguhnya engkau telah keluar dari sarang yang engkau tempati menuju hamparan luas yang tidak engkau ketahui, juga menuju teman yang engkau belum merasa rukun dengannya. Oleh sebab itu, jadilah engkau bumi baginya, maka ia akan menjadi langit bagimu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya dia akan menjadi tiang untukmu. Jadilah hamba sahaya baginya, niscaya dia akan menjadi hamba untukmu. Dan janganlah engkau meremehkannya, karena dia akan membencimu dan janganlah engkau menjauh darinya karena dia akan melupakanmu. Bila dia dekat denganmu maka dekatkanlah dirimu, bila dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya dan matanya. Janganlah dia mencium sesuatu darimu kecuali wawangian dan janganlah dia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik.”
4.
Pesan Amamah binti Harits kepada anak
perempuannya saat pernikahan
Ketika membawanya kepada calon suaminya, Amamah binti Harist berpesan kepada anaknya,“Wahai anak perempuanku! Bahwa jika wasiat ditinggalkan karena keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Tetapi wasiat merupakan sebuah pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal. Jika seorang perempuan merasa cukup pada suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku merupakan orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki diciptakan untuk perempuan. Oleh karena itu, wahai anak perempuanku! Jagalah sepuluh perkara ini.Pertama dan kedua : Perlakukanlah ia dengan sifatqana’ah danmu’asyarahmelalui perhatian yang baik dan ta’at, karena padaqan’aah terdapat kebahagiaanqalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Tuhan.
Ketika membawanya kepada calon suaminya, Amamah binti Harist berpesan kepada anaknya,“Wahai anak perempuanku! Bahwa jika wasiat ditinggalkan karena keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Tetapi wasiat merupakan sebuah pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal. Jika seorang perempuan merasa cukup pada suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku merupakan orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki diciptakan untuk perempuan. Oleh karena itu, wahai anak perempuanku! Jagalah sepuluh perkara ini.Pertama dan kedua : Perlakukanlah ia dengan sifatqana’ah danmu’asyarahmelalui perhatian yang baik dan ta’at, karena padaqan’aah terdapat kebahagiaanqalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Tuhan.
Ketiga
dan keempat : Buatlah janji di hadapannya dan berintrospeksilah di hadapannya.
Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan sampai ia mencium darimu
kecuali wewangian.
Kelima
dan keenam : Perhatikanlah waktu makan dan tenangkanlah ia tatkala tidur,
karena panas kelaparan sangat menjengkelkan dan gangguan tidur menjengkelkan.
Ketujuh
dan kedelapan : Jagalah harta dan keluarganya. Dikarenakan kekuasaan dalam
harta artinya pengaturan keuangan yang bagus, dan kekuasaan dalam keluarga
artinya perlakuan yang baik.
Kesembilan
dan kesepuluh : Jangan engkau sebarluaskan rahasianya, serta jangan engkau
langgar peraturannya. Jika engkau menyebarluaskan rahasianya berarti engkau
tidak menjaga kehormatannya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau
merobek dadanya.
Bahwasanya keagungan baginya yang paling besar adalah
kemuliaan yang engkau persembahkan untuknya, dan kedamaian yang paling besar
baginya adalah perlakuanmu yang paling baik. Ketahuilah, bahwasanya engkau
tidak merasakan hal tersebut, sehingga engkau mempengaruhi keinginannya
terhadap keinginanmu dan keridhaannya terhadap keridhaanmu (baik terhadap hal
yang engkau sukai atau yang engkau benci). Jauhilah menampakkan kebahagiaan di
hadapannya jika ia sedang risau, atau menampakkan kesedihan tatkala ia sedang
gembira.”
Semoga bermanfaat,
Baca Artikel menarik lainnya di -> http://nisrina.co.id/blog/
Nisrina Peduli Wanita!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar